Ocehan-ocehan saya :)

Wednesday, August 5, 2015

Part 3 - Catching Up


Part 1 - 2038 | Part 2 - Entahlah

Hotel Adele hanya berjarak 20 menit berjalan kaki dari Victoria Square. Sepanjang perjalanan singkat itu, Andra tiada hentinya bercerita mengenai perjalanan keliling dunianya ditemani gitar kesayangannya. Pikiran Adele terbang-terbang, dan dia tersadar akan sesuatu: kenapa setiap kali aku ke Australia, aku selalu ketemu mantan? Waktu itu ketemu Ricky sama istrinya, sekarang ketemu Andra sama gitarnya. Jangan bilang nanti di Melbourne bakal ketemu bapaknya Justin!

Sesampainya di lobby hotel, Adele menghentikan langkahnya, “Tunggu di sini dulu ya, aku mau mandi dulu. Tadi kedinginan.”

“Nunggu di sini? Kamu mau aku diusir?”

“Lah kalau nggak, nunggu di mana?”

“Ya bayangin aja kalau satpam hotel bintang 5 liat ada pengamen duduk-duduk di lobbynya, apa nggak diusir?” Sahut Andra. “Nunggu di kamar kamu lah.”

“Kamar aku? Jangan!” Adele spontan melarang.

“Aduh, tenang aja, gak bakal aku apa-apain,” kata Andra sambil berjalan ke lift dan memencet tombol naik. “Lantai berapa?”

Adele sedikit menggerutu, lalu menekan tombol 25 dengan keras.

Begitu masuk ke kamar deluxe-nya, Adele mempersilakan Andra duduk di sofa yang ada di sudut ruangan, membelakangi kaca jendela. “Silakan nonton TV, istirahat, tapi jangan sentuh yang lain dan jangan naik ke ranjang aku. If you eat something from the mini bar, you gotta pay,” Adele memberikan instruksi yang singkat, padat, dan jelas.

“Loh, koq jadi jutek lagi sih? Perasaan tadi udah baek-baek ngomongnya,” kata Andra dengan nada menggoda.

“Hmph. Aku mandi dulu. Be back in 30 minutes.”

Adele bergegas ke dalam kamar mandi, memutar tuas keran ke tanda berwarna merah, dan masuk ke bawah pancuran. Dia masih berusaha untuk memahami apa yang baru saja terjadi dan sedang terjadi. Dia pun berpikir keras mengenai apa yang akan terjadi. Apa yang dia inginkan? Apa yang tidak dia inginkan? Ini semua masih berupa tanda tanya karena Adele sama sekali tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi.

Andra. Udah om-om aja masih ganteng.

Rambut Andra kini pendek dengan beberapa helai rambut berwarna perak yang nampak. Pakaiannya masih seperti rockstar tahun 2010-an. Celana jins, sepatu bot, dan jaket kulit. Kurang lebih masih sama dengan bayangan Adele akan Andra.

Ada sedikit rasa puas ketika mengetahui mantan pacar (apalagi yang pernah menyakiti) sekarang hidupnya tidak bagus-bagus amat. Tidak jelek juga sih, tapi tidak lebih bagus dari Adele juga. Setidaknya itu yang dia dapat dari percakapan singkat tadi.

Diam-diam Adele kagum bahwa Andra masih mempertahankan idealismenya. Adele tahu Andra bermain musik di jalanan bukan untuk menyambung hidup, melainkan untuk menjalankan hobinya. Adele jadi sadar, Andra begini bukan karena dia seorang brondong, melainkan memang jiwa dan idealisme senimannya yang tidak bisa diganggu gugat. 23 tahun yang lalu, Andra bukan husband material, dan dia tidak pernah menjadi seseorang dengan husband material, bahkan sampai sekarang pun.

Dia, boyfriend material. Pacar yang keren dan membanggakan. Dari dulu sampai sekarang.

Adele menggeleng-gelengkan kepalanya, dan menepuk-nepuk wajahnya yang masih dihantam air pancuran hangat. Mikir apa sih? Dasar tante-tante kesepian.

Adele keluar dari kamar mandi mengenakan kaos putih longgar bertuliskan Bali, oleh-oleh dari Dewi, dan celana panjang berwarna hitam. Adele membungkus rambutnya ke atas dengan handuk dan mengenakan sandal hotel yang empuk.

Andra duduk di sofa sambil menggenjreng gitarnya, menyanyikan sebuah lagu Indonesia legendaris yang sudah lamaaa sekali tidak Adele dengar.

Walau kau hanya singgah
Sekejap di cinta tulus ini
Tapi sangatlah berharga
Jadi kenangan yang aku banggakan
Maka bagiku cinta
Adalah harta yang kusimpan

Andra memberi kode pada Adele untuk ikut bernyanyi. Adele memejamkan matanya, menaruh tangan kanan di dadanya, dan tangan kiri di samping telinganya, dan bernyanyi lagaknya seorang penyanyi RnB yang begitu menjiwai lagunya.

Jejak langkah yang kau tinggal
Mendewasakan hatiku
Jejak langkah yang kau tinggal
Takkan pernah hilang selalu

Begitulah cintaku

Adele membuka matanya dan tertawa. Andra juga tertawa dan itu membawa Adele tertawa lebih keras lagi. Adele tidak ingat kapan terakhir dia tertawa selepas ini, dan dia baru teringat betapa menyenangkannya perasaan ini, tertawa untuk hal-hal yang kurang penting. Tawa yang memberi efek hangat sekaligus sejuk pada hati.

“Ah sebel,” kata Andra sambil memukul gitarnya pelan.

“Kenapa?”

“Tadi udah keburu janji gak mau ngapa-ngapain kamu,” kata Andra.

“Jijik lu, Ndra. Gue udah tante-tante menopause gini masih mau elu embat juga,” kata Adele sambil melempar bantal ke wajah Andra.

Adele masuk ke dalam selimut sementara Andra masih duduk di sofa dengan gitarnya, “Ayo lanjut ceritanya.” Nada Adele kembali melembut.

“Tadi sampe mana yah?” Andra menyandarkan gitarnya di samping sofanya. “Oh iya, sampe Barcelona. Barcelona indah banget. Hehe kayaknya aku dari tadi ngomong semua tempat ‘indah banget’ ya. Mau gimana lagi, emang indah sih. Aku gak tau adjektif apa lagi yang cocok untuk menggambarkan tempat-tempat itu,” kata Andra.

“Pantesan aja kamu bikin banyak lagu ya.”

“Iya. Lagu aku banyak yang pake nama-nama kota gitu. ‘Loving London’, ‘Midnight in Osaka’, ‘Cinta di Ciamis’…”

“Hah? Ciamis?”

“Hehe, enggak… Bercanda. Yang bener, Cinta di Chicago.”

“Hmmm… Chicago, kota angin. Pasti pengennya pelukan terus,” kata Adele. “Trus, dari semua kota itu, kamu paling suka kota apa?”

Andra tersenyum, “Menurut kamu?”

“Adelaide? Cukup obvious ya.” Tanya Adele.

“Ya iyalah, kalau nggak, ngapain aku sampai settle di sini.”

“Kenapa kamu milih settle di sini?”

“Adele, semua kota yang aku kunjungi itu cuma ada dua jenis: indah, dan indah banget. Tapi di antara semuanya itu, nggak ada yang terasa homy.”

“Hmmm… Trus?” Adele memeluk sebuah bantal dan membenarkan posisinya di dalam selimut.

“Begitu sampe di Adelaide, aku anggep kota ini sama kayak kota-kota lain aja. Eh tapi koq sebulan lewat, dua bulan lewat, rasanya aku gak pengen pergi dari sini. Trus, ya udah aku urusin aja izin tinggal di sini dan sebagainya, trus aku sewa apartemen dan tinggal di sini sampai hari ini.

Ya begitu, setiap hari aku ke Victoria Square, main musik di sana, ngeliatin orang duduk-duduk di sana. Ada yang pacaran, ada yang sendirian, ada yang rame-rame. Yang sendirian pun macem-macem, ada yang sambil baca buku, ada yang sambil nulis, ada juga yang nangis. Kadang-kadang aku samperin orang-orang yang sendirian itu.

Pernah waktu itu ada anak remaja cewek duduk sendirian, nangis sampe mukanya bengkak kayak martabak, trus aku samperin trus aku nyanyi buat dia. Pas ditanya, dia bilang dia baru abis putus sama pacarnya. Biasa lah. Cewek itu dateng hampir tiap hari, semakin hari semakin sembab aja matanya. Sebisa mungkin aku temenin dia, eh tau-tau dia… jatuh cinta sama aku.”

“GR kamu. Kamu cuma dianggep bapak atau om sama dia kali.” Adele memotong cerita Andra.

“Nggak lah… Aku yakin dia jatuh cinta sama aku. Setiap hari dia bawain aku makanan hangat dan kopi. Aku sih care sama dia, tapi gak sampe pengen jadian sama dia. Tapi kan, lumayan juga yah dikasih makanan sama ditemenin ngobrol setiap hari. Suatu hari, dia bilang pengen nikah sama aku. Aku cuma ketawain dia doang, masa kamu mau nikah sama pengamen? Trus hari itu dia bawa nasi sama ayam tumis pake sayur ijo, dan makanan itu dilempar ke aku sampe sekujur tubuh aku nasi semua. Hahaha…”

“Ngeri amat.”

“Iya, cewek kalo udah kebelet nikah ngeri-ngeri ya.”

“Ya lagian kamunya juga yang PHP.”

“Yaudah, trus besokannya dia gak muncul lagi, aku sih business as usual. Tapi aku jadi terinspirasi bikin lagu-lagu. Aku nulis tentang dia, trus aku keinget kisah orang tua kamu yang jatuh cinta di sana juga. Jadi deh album yang kamu lihat tadi, Adelatte. Album itu isinya kisah-kisah di Adelaide, macem-macem kisahnya, ada yang soal..”

Adele mendengkur pelan, matanya sudah terpejam.

“Adele? Adele?” Andra berbisik sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Adele. Adele tertidur lelap. Andra sesaat bingung harus berbuat apa, kemudian dia menarik selimut Adele sampai menutupi pundaknya.

Andra memandangi wajah Adele yang terlelap, seperti ada kesedihan yang tersirat di balik kelopak matanya yang terpejam.

Andra membungkuk, mengecup pipi Adele, lalu berbisik, “Jangan sedih. Ada aku.”

(bersambung)

Part 4

0 comments: