Ocehan-ocehan saya :)

Tuesday, August 4, 2015

Part 2 - Entahlah

Part 1 - 2038

Adele mengangkat kepalanya, melihat sosok lelaki di depannya. Lelaki itu juga memandang Adele, kemudian menghentikan genjrengannya. Dia terdiam selama dua detik, melepaskan gitar yang disampirkan di bahunya, dan berkata…

“Akhirnya kamu dateng juga, Adele”.

Adele melonjak kaget. CD di genggamannya terjatuh. Penonton yang sedari tadi mengelilingi sang pengamen membubarkan diri.

“Adele, I’ve been waiting,” kata laki-laki itu lagi sambil tersenyum super lebar.

“Andra? Koq… kamu…?” Adele tidak tahu harus berbuat atau berkata apa. Dia bahkan tidak tahu apa yang hatinya rasakan: senang atau sebal? Yang jelas, dia kaget setengah mati.

Andra memeluk Adele erat, dan pelukannya terasa begitu nyaman. Entah, mungkin karena cuaca Adelaide super dingin, atau mungkin karena Adele sudah terlalu lama tidak dipeluk selain oleh Justin, atau mungkin karena mereka adalah 2 keping puzzle yang klik. Entahlah.

“Adele, tunggu sebentar, aku beres-beres dulu. Kita harus ngobrol abis ini,” suara Andra sampai tersengal-sengal saking bersemangatnya. Dia langsung membalikkan badan, meraup semua uang di boks gitarnya dan menjejalkannya ke dalam kantong jaketnya. Dia mengambil empat keping CD yang tadinya berusaha dia jual dan membagikannya ke orang-orang yang lewat.

“Please take it, this is for you, I have found her. She’s here,” katanya sambil menyerahkan CD itu ke orang-orang yang kaget karena disergap pengamen jalanan. Adele berharap CD itu tidak malah dibuang ke tempat sampah yang berjarak 12 langkah dari tempat dia berdiri sekarang.

===

Entah bagaimana proses terjadinya, tahu-tahu mereka berdua sudah ada di sebuah kafe di satu gang buntu. Andra menyapa baristanya dan mengambil tempat duduk di pojok dekat penghangat. Adele masih saja diam seribu bahasa sejak disergap pelukan Andra tadi.

Mereka berdua saling memandang. Andra masih tidak bisa berhenti tersenyum seperti orang yang baru menang lotre. Ketika jiwanya sudah kembali ke raganya, akhirnya Adele bersuara, “ANDRA! Apaan sih lu!”

“Hahahaha…” Andra malah terbahak. “This is soooo Adele. Reaksi kamu ini… kamu banget. Udah 20 tahun lebih juteknya masih nggak ilang-ilang.”

Adele kesal, tahu apa Andra soal apa yang sudah terjadi 20 tahun ini? Tapi tetap, Adele tidak tahu harus berbuat apa sekarang.

“Adele, aku udah menanti hari ini sejak bertahun-tahun yang lalu. Tapi ketika kamu beneran ada di depan aku, aku juga jadi bingung sendiri mau cerita dari mana.”

Seperti kebiasaan Adele, dia langsung melirik ke jemari Andra yang memeluk gelas kopinya. Tidak ada cincin di jari manis kirinya.

“Koq kamu bisa di sini?” Akhirnya Adele buka suara.

“Hmmm… Ceritanya panjaaang banget… Kejadiannya udah berjalan sekitar 20 tahun. Kalau mau diceritain, bisa berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan,”

“Yaudah kalau kamu gak mau cerita,” Adele memalingkan mukanya ke luar jendela.

“Eits, mau… mau… Tapi, kamu dulu aja deh. Kamu apa kabar? Koq bisa ke Adelaide? Jangan-jangan kamu tinggal di sini sekarang?”

“Enggak. Aku jalan-jalan aja. Baru sampe tadi pagi. In fact, besok pagi aku udah berangkat lagi ke Melbourne”.

“Oh? Koq cepet banget? Lamaan aja di sini. Kan ada aku!”

“Najis lu”.

Andra malah tertawa lagi, “Adele, kamu udah gak dendam soal kejadian 20 tahun lebih yang lalu kan?”

Adele kesal bukan main mendengarnya. Sebenarnya dia sudah tidak pernah memikirkan Andra sama sekali. Tapi kalau diingatkan begini, hati Adele mendadak panas. Seperti ada luka batin yang terkorek lagi.

“Gak tau. Bodo amat. Aku udah gak pernah mikirin lagi,” jawab Adele ketus.

“Akhirnya aku nggak jadi sama Stefani koq, if this could make you better”.

Hati Adele sedikit adem, tapi dia berusaha tidak menunjukkannya. Perlahan hati Adele merasa senang. Asyik juga bertemu seseorang yang sudah begitu lama tidak ditemui. Rasa kesepian Adele membuatnya gampang puas setiap kali bertemu lawan bicara.

“Gimana kabar kamu?” Tanya Andra lagi.

“Well, aku udah jadi tante-tante sekarang”.

“I can see that,” kata Andra sambil terkekeh. “Tapi tetep cantik koq.”

Adele mengabaikan gombalan Andra barusan, “Aku punya 1 anak cowok, namanya Justin. Umurnya 18 tahun.”

“Oh! Suami?”

“Udah pisah 8 tahun yang lalu.”

“Oh. Sorry,” kata Andra meski tidak ada ekspresi penyesalan di wajahnya.

“Gak apa-apa. Itu kesepakatan bersama dan untuk kebaikan bersama.”

“Trus sekarang? Pacar? TTM? Gebetan?” Tanpa sadar, Andra mencecar Adele.

“Andra, plis lah. Emangnya aku anak 17 tahun masih punya gebetan atau TTM?”

“Ya kan aku mau mastiin aja,” Andra terkekeh lagi. “Trus, kenapa bisa ke Adelaide?”

“Tiket pesawatnya lebih murah ke sini dulu. Sebenernya tujuanku Melbourne. Iseng aja jalan-jalan sendiri. Bosen di rumah sendirian, anak udah kuliah”.

Andra bergumam, “hmm”.

Kini Adele tidak kalah penasarannya mengenai apa yang terjadi pada Andra, “Kalo kamu? Kenapa gak jadi sama Stefani? Sekarang ada istri? Anak? Pacar? Gebetan?”

“Gak ada. Just me and my guitar,” kata Andra sambil menepuk boks gitar yang berdiri di sampingnya. “Aku gak sempet nikah sama Stefani. I ended it all.”

“’I’ ended it all? Bukan ‘we’ ended it all atau ‘she’ ended it all?” Adele bertanya setengah tidak percaya.

“Iya. Jadi ceritanya waktu tahun 2016 papaku tiba-tiba meninggal. Mamaku shock berat dan sakit parah. 2017 mamaku meninggal. Akunya yang jadi shock berat.”

“So sorry to hear that,” kata Adele.

“Gapapa. Papa mamaku ninggalin aku rumah yang waktu itu aku tinggalin, 1 apartemen, 2 mobil, dan uang asuransi yang jumlahnya gede. Semua jatoh ke aku. Ternyata ada untungnya juga jadi anak tunggal,” Andra tersenyum lagi.

“Aku tinggal di rumah itu sendirian, kesepian. Stefani setiap hari dateng ke rumah buat menghibur aku. Lama-kelamaan, dia jadi tinggal bareng aku,” kata Andra datar.

“Weleh, zaman itu emangnya udah umum tinggal bareng gitu?” Tanya Adele.

“Ya enggak. Tapi orang tuanya Stefani tau koq. Mereka yang nyuruh malah.”

“Hah? Koq bisa?”

“Iya, Stefani udah kebelet nikah sama aku. Orang tuanya juga udah kebelet liat anaknya nikah, makanya diizinin tinggal bareng. Mungkin sengaja juga biar aku hamilin trus nikah gitu. Tapi, aku emang belom kepengen nikah trus risih didesak-desak terus, jadi lama-lama aku bete juga.

Udah gitu, setelah beberapa bulan, aku ngerasa ‘koq gak enak ya hidup ditempelin orang terus’. Aku semakin gak bisa bayangin menikah, apalagi sama Stefani, yang kalo ketemu aja bawaannya udah bete terus. Jadi, aku makin menutup diri dari dia, dan karena aku menjauh, dia semakin menggebu-gebu cari perhatian aku.”

“Klise banget. Trus?” Celetuk Adele.

“Kebetulan waktu itu band aku sama Ruben dkk juga memutuskan untuk bubar. Lagi-lagi karena mereka masing-masing pilih berkeluarga dan istri-istri mereka agak keberatan kalo suami-suaminya ngeband. Aku pikir, aku jadi udah nothing to lose. Ortu udah nggak ada, band udah bubar, pacar udah malesin. Jadi aku ambil keputusan yang sangat besar yang sama sekali gak aku sesalin sampe sekarang.”

“Apa itu?” Adele semakin penasaran.

“Aku jual semua properti warisan orang tuaku, termasuk rumah yang aku tinggalin. Trus aku bayar orang buat ngurusin aset-asetku, sampe hari ini. Pokoknya entah gimana caranya duit aku diolah sama dia sampe gak abis-abis sampe hari ini,” kata Andra kalem.

“Wuih, hebat amat.”

“Suatu hari, aku suruh Stefani untuk ngepak barang-barangnya dan pergi. Tentu saja, dia gak mau pergi. Aku bilang kalo rumah itu udah dijual dan kita harus pergi dari rumah itu dalam waktu seminggu. Dia tetep keukeuh gak mau pergi, ya terpaksa aku bilang, ‘kalo kamu gak mau pergi, ya beli rumah ini, kalahin angka penawaran si pembeli yang sekarang, pokoknya aku tetap cabut dari rumah ini’.”

“Hahaha… Brengsek banget kamu, Ndra.”

“Yaudah, akhirnya rumah itu dikosongin, trus aku urus-urus visa dan beli tiket one way ke Roma. Dan di situlah semuanya dimulai.”

“Roma?”

“Iya, Roma. Gak tau kenapa, random aja. Trus aku pindah-pindah negara. Kalo udah bosen di satu negara atau kota, aku pindah. Pertama-tama aku di Eropa dulu. Trus balik lagi ke Indonesia, keliling Indonesia. Trus keliling Asia, Amerika, dan begitu terus sampe akhirnya aku keliling Australia.”

“Asik banget hidup kamu,” kata Adele kagum. Adele jadi teringat, inilah yang dia kagumi dari Andra sejak dulu. Spontanitas dan keberaniannya.

“Ya, lumayan. Sampe di satu kota, kalo keadaan memungkinkan, aku ngamen aja. Lumayan dapet recehan buat beli sandwich. Sambil jalan aku suka nulis lagu. Setelah 6-7 tahun, jadi deh satu album. Tapi bukan album ‘Adelatte’ yang kamu liat tadi. Itu tadi album kedua aku, rilisnya 3 tahun lalu.”

“Hehe… Keren,” Adele yang jutek sudah berganti Adele groupie-nya Andra.

“I’m sorry to interrupt, but we’re closing in 10 minutes,” kata seorang pelayan bercelemek hijau. Adele melirik arlojinya, ternyata sudah hampir pukul 8 malam di Adelaide. Andra memberi kode pada pelayan itu bahwa mereka akan segera meninggalkan kafe tersebut.

“Jadi, mau lanjut di apartemenku atau di hotel kamu?” Tanya Andra.

“What? No. Udahan aja. Besok aku mau bangun pagi, nyetir ke Melbourne,” kata Adele sigap. Adele tahu Andra tidak akan menyetujui hal ini, dan Adele pun sebenarnya belum mau mengakhiri reuni bersama mantan ini.

“Dih. Aku belom selesai ceritanya, tau! Emangnya kamu gak mau denger?”

“Ya, mau sih…” keingintahuan Adele mengalahkan gengsinya.

“Your place or my place?” Tanya Andra lagi.

“Yaudah, hotelku aja…” Jawab Adele semangat.

Lho, koq semangat? Entahlah…

(bersambung ke: Part 3)

0 comments: