Ocehan-ocehan saya :)

Monday, August 25, 2014

Mind-Blowing World Tour: #MBWT Melbourne - Adelaide


Ketika aku tahu kalau aku jadi pemenang kompetisi nulis #BersamaGaruda yang hadiahnya bisa ikut @pandji ke salah satu destinasi Mesakke Bangsaku World Tour-nya, aku berharap bisa ikut ke Amsterdam, Berlin, London, atau Los Angeles, pokoknya yang terjauh. Tapi, ketika dikasih tahu kalau aku ikut ke Melbourne dan Adelaide, sedikit pun aku gak kecewa, malah super excited. Salah satunya karena aku bisa ke dua kota sekaligus, di salah satu trip terpanjang mereka.
       Sebelum berangkat, aku deg-degan. Aku menyangka kalau aku pasti starstruck banget sama Pandji, sehingga aku ngerasa harus jaim setiap saat di depan idola selama hampir seminggu penuh. Tapi, semua kekhawatiran buyar karena… semua yang ada di tim #MBWT gokil-gokil dan rem aku juga jadi ikutan blong. Kami bertujuh ada Pandji, Zaindra, Ben, Pio, Danis, Krisna dan aku. Masing-masing punya kelucuan dan keunikan masing-masing, yang kalau digabung jadi pecah berkeping-keping. Setiap orang punya tugas dan perannya sendiri, sehingga kalau kurang satu aja pasti gak berjalan baik. A great team, indeed. :’) Dan ternyata, menurut aku yang paling lucu di antara kesemuanya bukan Pandji, bukan Krisna juga, melainkan DANIS! Hahaha…


#MBWT Melbourne-Adelaide: Krisna Harefa, Zaindra, Ben, Pandji Pragiwaksono, Danis, Pio, dan Cindy



       Kamis, 14 Agustus 2014. Perjalanan kami mulai di Soekarno-Hatta. Kami bertujuh dapat pelayanan super istimewa dari Garuda Indonesia dengan premium check-in counter, dan boleh nongkrong di premium lounge-nya. Di dalamnya ada sofa-sofa nyaman, makanan, minuman, shower, toilet, free wifi, dan sebagainya. Ketika mau berangkat ke Denpasar (untuk transit) pun, kami bertujuh didahulukan. Dari lounge, kami naik mobil khusus dan masuk ke pesawat duluan sebelum penumpang lain. Jadilah kami selfie-selfie dulu di dalam pesawat yang masih kosong.  

Ciao Bella~
       Kami transit bentar di Denpasar, lalu langsung meluncur ke Melbourne. Di pesawat, aku bingung antara mau langsung tidur atau nonton film dulu. Akhirnya milih tidur, dan waktu bangun aku keburu ngejar satu film Argo yang adegannya bikin tambah deg-degan mau ngelewatin imigrasi Australia nanti.

MELBOURNE
      
       Jumat, 15 Agustus 2014. Sesampainya di Melbourne, kami dijemput oleh udara 10 derajat celcius dan anak-anak PPIA serta Ibu Eka dari Garuda Indonesia. Selama di Melbourne, kami bertujuh ditemani oleh anak-anak gaul Melbourne: Caca sebagai guide dan Hansel sebagai driver (Hansel dipilih jadi driver oleh panitia karena dia gak pernah nyasar, berkat selalu ninggalin jejak remah-remah kue di belakangnya). Mereka asyik dan helpful banget deh, kayak gak ada capeknya gitu. Di mana kami semua udah tepar gak karuan, mereka masih cheerful dan cekatan membantu apa pun yang kami mau. Mau aktivasi SIM Card? Sini! Mau makan gyutan-don? Besok ya! Mau kopi yang enak? Dianterin! Caca reminds me of myself, 5 years ago, di mana kerjaannya jadi mahasiswi lokal yang nganterin tamu ke mana-mana dan selalu siap sedia kapan pun juga tanpa mengenal lelah. You rock, Caca! And thank you for being my “other half” in Melbourne, alias orang yang bisa diajak sharing makanan Melbourne yang porsinya segede tiranosaurus.

Caca, Hansel, Pio di apartemen kami di Melbourne


       First day, setelah taro barang di penginapan, kami main-main, makan, dan ngopi di sekitar Swanston Street di pusat kota Melbourne, karena venue acara dan tempat-tempat asyik terpusat di sana. Aku colongan ke banyak tempat di sekitar situ. Ada Flinders Station, Federation Square, ACMI (Australian Centre for the Moving Images), St. Paul Cathedral (yang ternyata gereja Anglikan), Victoria State Library yang mencengangkan, tempat shopping macam H&M (yang terbesar di dunia, dan adanya di dalam bekas kantor pos), Target, dan lain-lain. Meski dingin, berjalan di sekitar Swanston dan Bourke Street sangat menyenangkan. Jalanannya berbentuk kotak-kotak dan very easy to navigate. Aku seneng banget liat ada beberapa kios bunga di sepanjang jalan. Bunganya segar dan warnanya vivid banget, memberikan torehan warna yang kontras di tengah kota yang dingin dan sibuk. 
Gak bisa nahan senyum kalau lihat ini :')
St. Paul Cathedral
Flinders Station

       Seperti yang udah disebut tadi, porsi makanan di Melbourne (dan Australia pada umumnya) itu gede-gede semua, sesuai dengan bitnya Pandji kalau orang Barat lebih terobsesi sama ukuran alih-alih jumlah. Tapi yang patut di-highlight itu bukan banyak sedikitnya, melainkan kualitasnya. Orang bilang segalanya di Australia mahal, bahkan lebih mahal dari Amerika atau Eropa, tapi menurut aku, harganya sebanding dengan kualitasnya (dan jumlahnya). Kualitas makanan/minuman baik yang masih mentah atau sudah matang itu bagus semua. Mungkin didukung sama alam yang bagus dan kesungguhan hati masyarakatnya. Bunganya luar biasa cantik, makanan dipersiapkan dengan sepenuh hati (you can tell), buah-buahan punya bentuk, rasa, dan aroma yang prima, bahkan air keran alias tap water (tep-woCHAH) aja bisa diminum. 


Orang yang bikin ini pasti berkarya, bukan hanya bekerja (@ Brunetti)

 
Merah, kuning, hijau di Victoria Market
#MBWT MELBOURNE

       Sabtu, 16 Agustus 2014. Can’t think of a better venue than this. Letaknya persis di tengah kota, tepat di seberang Victoria State Library. Kapasitasnya pas, akustik dan pencahayaannya bagus. Lebih dari 600 orang Indonesia di Melbourne datang dan terpingkal-pingkal nonton Pandji dan Krisna. Di momen perayaan kemerdekaan RI, Pandji sukses bikin orang terharu dan terhibur pada saat yang sama. Waktu aku merantau dulu, paling gak tahan denger lagu “Tanah Airku”, pasti langsung mewek. Dan lagu ini jadi pemantik mood di awal acara. Hampir seluruh bit Mesakke Bangsaku keluar, ditambah dengan satu bit baru yang berjudul “Cebok”, spesial untuk World Tour. Kalau kata orang bit itu lahir dari kegelisahan, aku tahu banget kalau bit ini sungguh lahir dari concern Pandji yang mendalam mengenai semprotan toilet di luar negeri. :D 

Kita habisi Melbourne malam ini!

       Pas bubaran, aku ketemu dengan beberapa teman yang tinggal di Melbourne (inilah salah satu alasan kenapa aku bersyukur bisa dapet ke Melbourne). Ada yang bilang “rahang gue sakit”, “bekas jahitan bengkak”, ada yang ga bisa bilang apa-apa lagi selain “keren, keren, dan keren”, dan ada juga yang gak bisa berhenti nyanyi “Cabe-cabean” yang dipopulerkan oleh Krisna Harefa. HAHAHA. Serius deh, Kris, gak ada yang tahu lagu ini sebelumnya. 

Teman SMA yang sudah 8 tahun gak ketemu :')

       Setelah Pandji dan Krisna selesai foto-foto, mereka yang belum makan malam (aku sih udah colongan makan gyutan-don di sebelah venue) diajak oleh Caca dan Hansel ke Oz Kebab di suburb. Katanya, food truck ini favoritnya mahasiswa Indonesia di sana. Cowok-cowok yang lagi kelaparan pun terengah-engah ngabisin satu kebab. Kalo aku, untung ada Caca. :’)
       Kami kembali ke apartemen sekitar pukul 1.30 subuh, dan harus buru-buru beberes dan packing untuk ngejar penerbangan pukul 6 pagi ke Adelaide. Di tengah-tengah kericuhan itu, kami ngakak sengakak-ngakaknya berkat kebaikan anak-anak Melbourne. Kalau gak percaya, cek aja Vine-nya Pandji, ada Danis sama Ben yang guling-gulingan di lantai sambil pelukan dan ngakak.

#MBWT ADELAIDE
      
       Minggu, 17 Agustus 2014. Belum sempat tidur, kami sudah dijemput lagi untuk berangkat ke Adelaide. Begitu sampai di tempat duduk pesawat, gak ada yang tahu proses taxi atau penjelasan safety dari pramugarinya. Kami semua langsung ketiduran dan baru bangun lagi ketika roda pesawat menghantam landasan bandara Adelaide. Kami dijemput oleh Faruq dan Tito, perwakilan PPI setempat, serta Pak Bobby dan Ibu Eka dari Garuda Indonesia yang berangkat dari Melbourne sehari sebelumnya. 
Pemandangan pertama di Adelaide

       Saking paginya, kami belum bisa check-in di hotel. Pandji dan Krisna perlu recharge tenaga mereka dan dress-up untuk show mereka sore nanti. Faruq dan Tito pun kebingungan, akhirnya kami didrop di rumah Pak Arief, seorang WNI yang udah belasan tahun tinggal di Adelaide, untuk istirahat. Pandji, Krisna, dan aku disambut dengan sangat baik (dan bingung) oleh Pak Arief, Bu Arief, dan anak mereka.
       Pas sudah lebih segar, kami berangkat lagi ke venue. Ternyata para masyarakat Indonesia di sana baru saja mengadakan upacara 17 Agustusan dan bazaar masakan Indonesia. Kelihatan kalau mereka sangat mementingkan acara ini. Pakai batik mereka yang tercantik, kerudung mereka yang tercantik, dan bawa perut yang kosong untuk makan makanan Indonesia (pengalaman pribadi zaman kuliah, hehe).
Demografi WNI di Adelaide dan Melbourne berbeda. Mahasiswa di Melbourne kebanyakan baru berumur 17-23an yang baru lulus SMA dan kuliah di sana. Sedangkan di Adelaide banyak mahasiswa S2 dan S3 serta orang-orang yang kerja di Adelaide. Maka dari itu, mereka lebih berumur, banyak yang udah berkeluarga, dan jauh lebih kalem dan gak heboh dibanding anak Melbourne. Ada juga seorang ibu yang sudah menetap di Adelaide dan sudah 30 tahun gak pulang Indonesia.
       Yang paling berkesan adalah opener MBWT Adelaide, yaitu Mas Jaka alias Jack. Mas Jaka ini adalah seorang tuna netra yang lagi studi S2 di Adelaide. Mas Jaka ini orangnya lucu dan pintar banget. Dia benar-benar menginspirasi. Kalau aku ngobrol sama dia, lama-kelamaan aku akan lupa kalau dia sebenarnya nggak bisa lihat.
Ngefans berat sama Mas Jaka!
       Sesudah Mas Jaka, setelah kurang dari 24 jam manggung di Melbourne, naiklah Krisna, kemudian Pandji. They killed it. Venue-nya Adelaide lebih kecil, lebih intim dibanding Melbourne. Di hadapan orang-orang Indonesia yang lagi super homesick, Pandji memberikan apa yang exactly mereka rindukan. Aku yang duduk di samping bisa melihat tawa orang yang pecah di setiap bit yang dilempar, seolah berkata “Udah lama banget gue gak ketawa lepas begini!” Aku pun ikut tertawa. I guess this is why I always laugh even though I already hear the same bit for more than 10 times. Laughing is contagious. 

Evangelis "Cabe-cabean". Ajadoss.

       And then, ada kata-kata dari Pandji yang teramat penting di mana aku sadar what the whole world tour thing is about (ini hal paling penting di seluruh tulisan panjang ini, hear hear). Menurut aku pribadi, makna yang terbesar dari world tour ini bukan sebagai pembuktian bahwa industri kreatif bisa sukses, bukan supaya Pandji bisa nyombong terutama di depan haters-nya, melainkan kata-kata Pandji berikut (paraphrase): 
       “I know that you live a very comfortable life in Australia. Indonesia mungkin gak senyaman Australia. Tapi pulanglah dan bangun Indonesia dari apa yang sudah kamu pelajari di sini.”

Pulanglah ke Ibu yang membutuhkanmu
       Kata-kata itu bikin aku tertampar banget. Karena sebenarnya sampai sekarang, aku masih kadang mempertanyakan apakah meninggalkan perantauan yang nyaman 3 tahun lalu itu adalah keputusan yang tepat. Selama 5 tahun aku merantau, bolak-balik ke acara komunitas Indonesia, gak pernah ada satu orang pun yang nyuruh kita balik untuk bangun Indonesia. Tapi berkat pesan dari Pandji kepada masyarakat Indonesia di Adelaide, aku jadi hakulyakin kalau pulang ke Indonesia adalah hal yang tepat. Mungkin gak enak, tapi pasti gak salah.

ADELAIDE

       Kami dapat kesempatan main di Adelaide sesudah show #MBWT. Sebelum berangkat, aku tanya ke teman-teman Melbourne mengenai Adelaide. Mereka bilang, “Ah, Adelaide sepi, gak ada apa-apa.” Mereka benar, Adelaide sepi. Tapi justru itulah yang membuat Adelaide istimewa.
       Malam hari, beberapa dari kami pengen cari tempat nongkrong. Kami jalan, jalan, dan jalan, malah ketemu Victoria Square, sebuah alun-alun di tengah kota Adelaide. Malam hari jam 8, di situ literally gak ada orang. Cuma ada patung Queen Victoria dan burung-burung. Cuaca gak terlalu dingin, dan kami duduk di situ dan ngobrol-ngobrol sambil dengar suara air mancur. Dia bilang, “Gue bisa seharian di sini”, dan aku bilang, “Adelaide indah banget ya, sayang kita sober.”
Baby I rule, I rule, I rule...
        Speaking of which, kami jadi terinspirasi untuk beli bir dan kembali ke Victoria Square untuk ngobrol-ngobrol sambil ngebir di sana. And you know what? Kami ke beberapa minimarket di sana, dan ternyata mereka gak jual bir karena gak punya izinnya. “Oh, kayak Karawang ya!” Katanya. Sungguh kota anak alim. Akhirnya kami tetap ngebolang di Victoria Square dan menemukan ini...

Rezeki anak soleh
        SEPETI PENUH MAINAN! Ada tenis, bulu tangkis (not bule tongue kiss!), kriket, dan mainan berbagai jenis bola. Ini semua boleh dimainin gratis. Kami yang sober pun memilih seru-seruan dengan cara lain, yaitu lempar-lemparan bola. Ternyata, have fun pun gak harus intoxicated. That night was one of the best moments in Australia.

       Keesokan harinya, just spending our day in an Australian-way. Aku memulai pagi dengan misa di Katedral St. Francis Xavier. Setelah itu, kami “ziarah” alias napak tilas ke apartemennya Raditya Dika dulu (now you know why Raditya Dika bisa “lahir” di Adelaide, kotanya kondusif banget buat nulis). Setelah itu, kami keliling Rundle Mall, belanja dan dilanjutkan dengan sesi wajib minum kopi di Hey Jupiter. Di sana aku ngobrol dengan Mbak Ade, orang Indonesia yang lahir di Adelaide (mungkin karena itulah namanya Ade). Mbak Ade ini penari yang akan tampil di Ubud Writers and Readers Festival loh! Ketika aku sedang melakukan ini, Pandji lagi di luar kafe ngobrol sama bule-bule yang lagi lewat mengenai Indonesia.
St. Francis Xavier Cathedral
  
Ngobrol dan ngopi cantik dengan Mbak Ade yang cantik
Bukan "Kena deh!"
    Sesudah ngopi, kami main ke University of Adelaide. Di depan hall-nya yang mirip gereja tua, tim #MBWT yang sudah “dilepas” oleh panitia mulai gila-gilaan, meski udara dingin menggigit, mereka tetap semangat bikin foto pose aneh-aneh, video rap, video ala Michael Bay, dan segalanya yang absurd-absurd. Video rap ini sumpah lucu banget! Orang-orang yang lewat dan melihat kami mengeryitkan kening dan berkata dalam hati, “Ini pada ngapain di kampus gue?” Pokoknya kalau DVD dokumenternya udah keluar, jangan gak beli ya! (Sekalian bantu promosi)

Bertindak sesuka hati, lompat ke sana ke sini
       Malam hari, setelah makan “A.B” yang terkenal di North Adelaide Burger Bar dan ngopi (!), kami jalan-jalan ke Elder Park. Di sana banyak angsa! Angsanya bisa jalan sampai ke darat dan main di rumput! Dan lagi-lagi, tempat itu sepi banget. Aku berpikir. Sungai dan jembatan yang indah seperti ini ada banyak di seluruh dunia. Tapi kenapa di Adelaide terkesan istimewa? Oh, aku tahu, karena orang-orangnya! Di sepanjang sungai itu, aku jalan bareng Mas Jaka yang dituntun Krisna dan ngobrol banyak soal kehidupannya sebagai tuna netra. He’s the kind of guy you see on Kick Andy. Santai, tapi menginspirasi. 
AB. Aku Begah
Abbey Road ala ala
 
Kiss kiss from Elder Park, Adelaide
       Keesokan harinya sebelum kembali ke Melbourne lagi, kami jalan-jalan bebas di sekitar Rundle Mall. Yang cowok-cowok shopping peralatan olahraga dan DVD di JB Hifi (tempat di mana waktu bagai berhenti), aku malah nemu “the hidden gem” di Adelaide: ADELAIDE CITY LIBRARY. Woohoo. Kontras banget sama kasino di Adelaide yang sepi dan lesu, perpustakaan Adelaide itu keren banget. Meski tempatnya gak begitu gede, tapi isinya lengkap. Ada komputer, ruang musik sekaligus komputer Mac untuk ngemix, 3D printer, ruang rapat, dan lain-lain. Jatuh cinta deh sama kota ini.
Nyuruh Krisna fotoin, aku liat hasilnya, dan suruh ulang 50x sampai hasilnya cakep gini. Mamam.

Meeting jadi hemat dan produktif kan kalau begini!

       Kesimpulannya, Adelaide is very underrated. It’s the perfect place to go when you’re sick of crowded and busy city life. Adelaide telah bikin aku mabuk, jatuh cinta, dan ketagihan.


You just want to eat the clouds
 xXx


       Aku selalu lemah dalam menutup tulisan, karena aku tidak suka perpisahan dengan sesuatu yang kusuka. Tapi, tidak ada pesta yang tidak berakhir, bukan? Siapa saja yang mampu bisa pergi ke Australia, tapi tidak semua orang bisa bagian dari sejarah tur dunia pertama dari standup comedian Indonesia. Untuk itu, aku merasa bangga dan berterimakasih yang sebesar-besarnya pada Garuda Indonesia yang sangat mendukung rangkaian tur ini. Pula pada Pandji serta tim. You are not just a true entertainer, you are a hero to me now.  
FAIGK!!!!!!!


more pictures: instagram.com/kusumacin 

3 comments:

mark swapo said...

Cindy seems u had a great adventure there! dan ga ada yg lebih menyenangkan drpd socializing with positive and cheerful ppl ya! brasa punya semangat trus pastinya.. dan smoga kata2 Pandji bisa jadi inspirasi buat engineer,dokter,ilmuwan,guru2,pesepakbola keturunan Indonesia yg masih bekerja di luar sana.. Indonesia need u more than ever and you need to prove urself in Indonesia just like never before..great job Cind, wait for other adventurous stories!!

Cindy said...

Thanks for always supporting me, Swapo!

Lita Nala Fadhila said...

Inspiring!!!,